Jumat, 12 Juni 2009
Tapak Tilas Kelahiran NU (II)
Bismillaahirrohmaanirrohiim. Kemenangan Ibn Sa'ud atas Raja Hijaz Syarif Husein dan putranya tahun 1924 sebagai penguasa Mekkah, telah merubah tradisi faham keagamaan yang di Mekkah dan di Indonesia menjadi faham wahabiyah. Gerakan modernisasi wahabiyah dengan tujuan penjernihan aqidah Islam, dikembangkan dengan menggunakan kekuasaan sebagai Raja. Sasarannya adalah membrantas bid'ah, ziarah, tawassul dan bermadzhab. Tokoh-tokoh yang menopang gerakan ini adalah Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridlo. Penyebaran gerakan anti bid'ah, tawassul, khurafat, taklid dan bermadzhab di Indonesia dimotori oleh Muhammadiyah, al Irsyad dan Persis. Obyeknya adalah amaliyah Ahlussunnah wal jama'ah yang selama ini dilakukan oleh para Ulama dan masyarakat Islam tradisional. Suasana panas ini menjadi bahasan utama Konggres ke 4 al Islam 21-27 Agustus 1925 di Yogyakarta. Bersamaan dengan itu diakhir tahun 1925 dilaksanakan Muktamar Khilafah di Mekkah untuk meneguhkan kedudukan Ibn Sa'ud sebagai pengganti Daulah Utsmaniyah dengan mengundang tokoh-tokoh negara Islam, termasuk Indonesia. Forum Konggres al Islam ke 4 di Yogya mengambil keputusan, bahwa delegasi ke Muktamar Mekkah adalah HOS Cokroaminoto (SI) dan Mas Mansur dari Muhammadiyah. Sedangkan calon utusan KH. Abdul Wahhab Hasbullah dicoret dari daftar delegasi ke Mekkah. Peristiwa inilah yang membuka pintu KH. Abdul Wahhab Hasbullah untuk membentuk "Komite Hijaz" dan bertekad berangkat ke Muktamar Khilafah di Mekkah dengan missi agar Raja Ibn Sa'ud menghormati tradisi beragama dan bermadzhab yang dianut umat Islam, dikampung Kertopaten Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan hadir pada majelis itu antara lain HadlrotusySyeikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. Asnawi, KH. Ma'sum, KH. Nawawi, KH. Faqih dan KH. Abdul Halim. Ketua Komite Hijaz dipimpin Hasan Gipo dibantu oleh Mbah Shodiq, dan menetapkan utusan Muktamar di Mekkah adalah KH. Abdul Wahhab Hasbullah. Setiba di Mekkah ternyata Raja Ibn Sa'ud menerima dan menghormati missi yang dimohonkan para Ulama di Indonesia. Komite Hijaz inilah yang pada akhirnya oleh KH. Hasyim Asy'ari diganti nama "Nahdlatul Ulama", sebuah kebangkitan para Ulama. (bersambung) . Sumber: Majalah Nahdlatul Ulama AULA No. 01 Tahun XXXI Januari 2009 halaman 39 . والله أعلم بالصواب .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar